Oleh: kesppi | 11 Mei 2012

Siapa Sebenarnya yang Rugi?

Oleh : One Meidyana

Jujur merupakan salah satu sifat terpuji dalam islam. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balsan yang luar biasa untuk mereka. Termasuk kedalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur kepada diri sendiri, dan jujur kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda “senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis disisi Allah sebagai seseorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa ke neraka. Seseorang yang dusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (Hadits Shahih)

Secara sederhana, jujur di definisikan sebagai keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Kejujuran ialah saat ucapan dan perbuatan seseorang itu sesuai dengan apa yang ada di dalam batinnya. Lawan dari jujur adalah dusta. Secara sederhana dusta dapat diartikan sebagai ketidakselarasan antara berita dengan kenyataan.

Saat kita berkata atau berbuat tidak jujur (dusta) terhadap seseorang, entah itu berdampak besar ataupun tidak terhadap yang kita dustai, hakikatya kita sedang mendzalimi diri sendiri, karena diri kita mengetahui dengan pasti bahwa kita berdusta namun tetap mengingkari kebenaran yang ada. Apakah kita menyukai orang yang perkataannya berisikan dusta? Tentu tidak bukan? Orang-orang demikian hanya akan diwaspadai dan tidak akan diberikan kepercayaan oleh orang-orang terdekatnya. Demikian pula hati nurani kita, ia pun akan merasa tidak suka jika kita berdusta. Lantas jika diri sendiri saja tidak bisa mempercayai kita, siapakah yang akan percaya?

Karena itu, saat kita berdusta sebenarnya yang mendapat kerugian besar bukanlah orang yang kita dustai, melainkan kita sendiri, karena kita secara tidak sadar kita telah mendzalimi diri sendiri, dusta juga membawa dosa kepada kita dan mendekatkan kita kepada neraka. Saat kita mendustai orang lain, mereka selalu memiliki pilihan untuk terpengaruh atau tidak terhadap apa yang kita katakan, tetapi diri kita sendiri sudah pasti akan mendapat pengaruh karena dusta yang kita buat.

(Artikel dibuat dalam rangka mengingatkan, khususnya diri sendiri, bukan dalam rangka menggurui, semoga bermanfaat😀 )


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: