Oleh: kesppi | 9 Mei 2012

FORGIVENESS FOR GOOD

Oleh : Pramita Febriyani Dewi

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar sempurna. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, egois, tidak ramah, atau ceroboh. Setiap manusia juga pasti pernah merasakan bagaimana rasanya sakit hati, rasanya bergulat  dengan cinta diri yang berlebihan, berperang melawan rasa takut,  dan bagaimana memperjuangkan rasa cinta. Kita juga merasakan bagaimana kecewanya kita ketika ingin menjadi orang besar tapi masih saja bertingkah seperti orang “kerdil”; ketika kita ingin menjadi orang yang lembut tapi tetap saja bertindak kasar; ketika ingin menjadi bijaksana tapi terus saja bertindak konyol.

Hal-hal yang telah dipaparkan di atas hanyalah sebagian kecil dari fenomena-fenomena yang kita alami sebagai manusia. Dari sekian banyak fenomena tersebut salah satu yang mungkin sering kita alami adalah sakit hati (di sini maksudnya bukan sakit hati karena putus cinta atau apa yaa..). Karena pada hakikatnya kita sebagai manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita, maka interaksi dengan orang lain merupakan suatu kewajaran dan keharusan. Namun adakalanya dalam interaksi tersebut ada hal-hal yang tidak berkenan di hati kita. Adakalanya tindakan orang lain membuat kita tidak nyaman, sedih, kecewa, atau pun marah. Tetapi bukan berarti ketika kita mengalami perasaan tidak nyaman, sedih, kecewa, dan marah tersebut lantas kita melakukan hal yang sama terhadap orang lain.

Kita semua sebenarnya terlahir di dunia ini untuk saling memberikan kesembuhan-untuk saling menyembuhkan satu sama lain atas setiap pikiran yang salah, perkataan yang salah, dan perilaku yang salah. Kita juga sebenarnya telah dilengkapi dengan sejumlah sarana yang menakjubkan untuk mengatasi fenomena-fenomena kehidupan di atas, dan salah satu sarana yang paling menakjubkan dari seluruh sarana yang diberikan adalah rela maafkan atau forgiveness.

Memaafkan bukan berarti kita mengakui bahwa kita kalah, melainkan memperkaya hati kita. Memaafkan dapat membawa sukacita ketika kesedihan melanda, kedamaian ketika pertikaian berkecamuk, dan kegembiraan ketika amarah meledak. Dan rela memaafkan dapat membawa Kita kepada siapa diri Kita sebenarnya.

Terkadang sesuatu yang kita maksudkan itu sulit untuk dilakukan. Seperti halnya rela memaafkan. Terkadang pikiran kita menolak untuk memaafkan seseorang, apa pun alasannya. Dari pemikiran yang tidak mau memaafkan tersebut ternyata terdapat beberapa efek samping yang dapat menimbulkan dampak yang buruk terhadap diri kita, khususnya kesehatan kita. Masalah yang mungkin muncul karena pikiran yang tidak mau memaafkan itu antara lain dapat berupa pusing, depresi, kurang energy, cemas, mudah sakit, tegang dan “mau mati”, tidak bisa tidur dan istirahat, ketakutan yang tak beralasan, serta tidak bahagia akan hidup kita (Jampolsky, Gerald G. 2001)

Hal-hal tersebut hanya sebagan dampak negatif yang mungkin disebabkan oleh ketidakmauan kita untuk memaafkan. Memang, berkata-kata itu lebih mudah daripada melakukan. Tetapi bukan berarti hal tersebut tidak mungkin. Maka dari itu, mulalah dari saat ini (setelah anda membaca artikel ini) untuk mencoba rela memaafkan. Ingat, lakukan hal ini secara terus menerus. Karena rela memaafkan bukanlah sesuatu yang hanya kita lakukan satu atau dua kali saja melainkan suatu proses yang berkelanjutan. Mengapa? Karena hal ini juga dapat dijadikan sebagai alat pelindung yang menghindarkan kita dari dampak negatif yang telah disebutkan di atas. Rela memaafkan berarti tidak terus-terusan terbayang oleh kesalahan masa lalu dan terbebas dari amarah dan pikiran yang suka menyalahkan. Rela memaafkan bukan hanya untuk orang lain, tapi juga diri sendiri. Maka maafkanlah, sesungguhnya memaafkan itu akan membawa ketenteraman bagi jiwa kita, bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk I seterusnya, selama kita masih dapat menikmati karunia kehidupan yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. That’s why we call it forgiveness for good !!!

*untuk mengetahui lebih lanjut mengenai memaafkan, silahkan baca “Rela Memaafkan, Obat Paling Ampuh” yang ditulis oleh Gerald G. Jampolsky, M.D


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: