Oleh: kesppi | 6 Mei 2012

Pembentukan Karakter Seorang Muslim

Oleh : Indrarini Wahyuningtyas

Dalam perspektif Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi fitrah. Di dalam diri manusia terdapat potensi untuk berbuat baik yaitu bertakwa dan potensi untuk berbuat jahat yaitu hanya menuruti hawa nafsu. Menurut Usman Najati pola pembentukan kepribadian manusia tidak terlepas dari kedua potensi tersebut dan akan berkembang sesuai dengan proses kehidupannya. Jadi selain memandang karakter manusia dari segi faktor potensi, islam juga melihat adanya faktor lingkungan yang ikut turut andil mempengaruhi karakter.

Potensi karakter yang baik harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Keluarga sebagai bagian unit terkecil di masyarakat memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter anak. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. Sebagai keluarga muslim, orang tua dapat menginternalisasikan anak-anaknya mengenai Asmaul Husna dan juga nilai-nilai suri tauladan Rasullulah SAW.

Sebaik-baiknya karakter manusia menurut ajaran Islam adalah dari apa yang dicontohkan Rasulullah. Sifat-sifat mulia Rasullulah SAW diantaranya fathonah, amanah, shidiq dan tablig. Fathonah berarti cerdas. Seperti peribahasa yang ada belajarlah sampai ke negeri cina artinya sebagai umat islam hendaknya belajar tidak  terikat dengan ruang dan waktu. Amanah berarti ketika seseorang diberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu ia menjalankanya dengan sebaik-baiknya. Shidiq bermakna bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya sesuai dengan ucapannya. Kemudian terakhir terdapat tabligh yang artinya menyampaikan apa yang telah diamanatkan kepadanya.

Di dalam Islam, Al-Ghazali memiliki pandangan unik tentang pembentukan karakter manusia dalam kitab al-Maqshad al-Asna Syarh Asma Allah al-Husna. Ia menyatakan bahwa sumber pembentukan karakter yang baik dapat dibangun melalui internalisasi nama-nama Allah (asmul-Husna) dalam perilaku seseorang seperti pengasih, penyayang, pemaaf, dan sifat-sifat yang disukai Tuhan contohnya sabar, jujur, takwa, dan sebagainya. Sumber kebaikan manusia terletak pada kebersihan rohaninya dan taqarub kepada Tuhan. Karena itu, Al-Ghazali tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir tetapi juga kebersihan ruhani. Menjalankan semua amal ibadah yang wajib  merupakan pangkal dari segala jalan pembersihan ruhani.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: