Oleh: kesppi | 14 November 2010

Islamisasi Psikologi: Apa dan Bagaimana?

Islamisasi Psikologi: Apa dan Bagaimana?

Oleh Aftina Nurul Husna

Dan Dia Mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya…

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau Ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

(QS Al Baqarah (2): 31 – 32)

 

Psikologi atau ilmu jiwa adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang banyak menuai kontroversi. Kontroversi yang terjadi seputar teori dan aplikasinya terkait dengan cara pandangnya terhadap manusia yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini dalam Islam. Jika hal ini tetap diteruskan tanpa tindakan tertentu, maka psikologi dapat menjadi ilmu yang membawa kerugian bagi perkembangan jiwa dan perilaku umat Islam. Bagaimana menyelaraskan psikologi dengan akidah Islam kini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, baik mahasiswa maupun ilmuwan muslim.

Agenda islamisasi ilmu pengetahuan tidak hanya terjadi pada psikologi, tetapi juga bagi ilmu-ilmu yang lain. Segala macam ilmu bersumber dari Allah, namun dalam penggunaannya oleh manusia, ilmu dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat atau yang merugikan. Sebagai contoh, sains (ilmu eksakta) akan merugikan jika sifatnya yang seharusnya netral disusupi oleh ideologi tertentu, seperti yang terjadi pada teori evolusi yang dapat menggiring seseorang pada atheism. Contoh yang lain adalah jika ilmu yang coraknya dipengaruhi oleh budaya, kondisi sosial, dan ideologi masyarakat tertentu diuniversalkan bagi seluruh masyarakat dunia.

Penerapan psikologi bagi seluruh masyarakat dunia menjadi tidak mungkin tanpa terlebih dahulu disesuaikan dengan konteks. Psikologi tidak sama seperti ilmu eksak yang pasti karena diri manusia yang menjadi objek pembahasannya begitu beragam dan dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, agama, dan cara pandang yang ada. Bagi masyarakat Islam, tentu psikologi yang diterapkan adalah psikologi yang sesuai dengan Islam. Psikologi islami yang hadir adalah psikologi yang didasarkan pada Al Quran dan Hadist, pedoman hidup umat Islam.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana islamisasi ini dilakukan. Berbagai tokoh ilmuwan muslim telah menyimpulkan setidaknya dua cara mengislamisasikan psikologi. Cara pertama adalah dengan membangun psikologi melalui sumbernya langsung, yaitu Al Quran dan Hadist, dan kedua adalah dengan memanfaatkan ilmu yang sudah ada dan menyaringnya, mana yang sesuai dengan Islam, mana yang tidak.

Kedua cara tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya tidaklah mudah. Ada satu hal yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum islamisasi dilakukan. Hal tersebut adalah pemahaman Islam yang benar yang harus dimiliki para psikolog muslim. Islam adalah pengetahuan fundamental yang harus dipahami sebelum kita mempelajari ilmu lain. Dengan memahami Islam, kita mengetahui tolok ukur tertentu sebagai filter untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dalam psikologi saat ini. Dengan memahami Islam pula lah kita tahu dari mana seharusnya kita berangkat untuk mengembangkan psikologi islami. Karena itu, pengembangan psikologi islami tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah. Banyak pihak yang dapat diajak bekerja sama, seperti ahli tafsir, ulama, budayawan, dan sosiolog, dalam hal meneliti, mengkaji, dan menerapkannya.

Jika kemudian ditanya manakah cara yang paling tepat, jawabannya adalah keduanya. Cara yang tepat bagi seseorang disesuaikan dengan kemampuannya. Ilmuwan yang sangat memahami kandungan Al Quran dan Hadist, ia dapat mengembangkan psikologi dari sumbernya langsung. Ilmuwan yang memiliki pemahaman Islam yang terbatas dapat mengembangkan psikologi islami sambil mendalami Islam, membandingkan psikologi yang ada dengan konsep-konsep yang islami, mengevaluasi, memperbaiki, dan menyimpulkan suatu teori yang lebih baik lagi.

Apa yang dapat dilakukan mahasiswa psikologi? Inilah pertanyaan besar yang perlu dijawab.

Mahasiswa sering dipandang sebagai sosok yang belum matang secara intelektual. Kita sebagai mahasiswa baru saja mengenal psikologi. Ketika yang banyak dipelajari di bangku kuliah adalah psikologi Barat, maka yang harus secara mandiri kita lakukan adalah mempelajari Islam untuk meningkatkan kapasitas diri untuk mempersiapkan masa selanjutnya. “Ilmu tanpa agama, buta. Agama tanpa ilmu, lumpuh.” Inilah yang menjadi penyemangat bagi kita. Ada kesempatan yang begitu besar bagi psikologi islami untuk berkembang lebih jauh lagi. Karena Islam adalah agama yang universal, dengan berusaha keras tentu dapat dikembangkan psikologi yang sesuai dengan fitrah manusia yang sebenarnya, yang dapat dipahami semua orang, dan diterapkan tanpa menciderai jiwa.


Responses

  1. Setelah dicermati, ternyata seluruh ketua Kesppi pernah menulis tentang islamisasi psikologi atau yang sebangsanya…

    Hmm…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: