Oleh: kesppi | 14 November 2010

Islam dan Sains

Islam dan Sains

Oleh Imam Faisal Hamzah

Rasululloh bersabda bahwa akan tiba saatnya nanti orang-orang Islam secara membabi buta mengikuti cara hidup orang-orang Kristen dan Yahudi, meskipun bebarapa cara itu rendah dan tidak Islami. Bahkan jika mereka masuk dalam liang biawak pun, orang Islam tanpa pikir panjang akan memasukinya (HR Muslim dalam Malik B. Badri, 1993, hal.1). Sebuah fenomena memang bahwa umat Islam saat ini seakan terbawa arus global yang membumi, dalam artian bahwa umat Islam banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya termakan oleh trend universal yang sebenarnya merusak.

Seperti dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), umat Islam saat ini seakan hanya menjadi konsumen saja tanpa ingin untuk mengkajinya menurut perspektif Islam itu sendiri. Umat Islam akhirnya ingin maupun tidak menjadi pengikut ilmu pengetahuan universal yang berdalih netral. Padahal ilmu pengetahuan modern seperti itu meskipun berdaih bebas nilai, pada kenyataannya banyak yang ditumpangi kepentingan-kepentingan tertentu seperti politik maupun ekonomi.

Di era modern ini, di mana IPTEK berkembang dengan pesat, perlu adanya pengawalan yang serius, terutama oleh umat Islam itu sendiri atau bahkan kita perlu mendominasi dengan menggali potensi-potensi yang ada pada ajaran Islam. Agar perkembangan IPTEK yang pesat tersebut dapat dikurangi bahkan dihilangkan efek-efek kepentingan yang mengiringinya.

Islam tidak melarang umatnya untuk memelajari ilmu pengetahuan, bahkan wajib hukumnya, seperti dalam hadist yang diriwayatkan ibnu Majah, “Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah).” Selain itu penuntut ilmu lebih dimuliakan daripada ahli ibadah, seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang.” Karena ibadah tanpa ilmu pun tiada gunanya seperti jasad tanpa ruh. Dalam Al-Qur’an pun disebutkan “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi imu pengetahun beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Mujadalah (58) : 11).

Seperti itulah keadaan kita umat Islam, jika kita terlalu diam dengan perkembangan IPTEKyang terus berkembang, tanpa melakukan sesuatu hal dalam rangka mengembangkan islamisasi science, maka yang akan terjadi kita akan menjadi pengikut ilmu pengetahuan barat yang tanpa disadari pula maka nilai-nilai budaya barat pun sedikit demi sedikit akan meracuni generasi umat Islam saat ini maupun mendatang.

Pada dasarnya penggunaan IPTEK adalah untuk kemaslahatan peradaban manusia. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin seharusnya mampu memberikan kemaslahatan yang tepat guna. Berbeda dengan science barat yang menurut beberapa ahli justru memberikan ancaman bagi peradaban manusia, seperti dalam penggunaannya untuk peperangan. Oleh karena itu, Islam seharusnya mampu memberikan warna yang kuat namun indah dalam perkembangan IPTEK tersebut.

Umat Islam saat ini seakan terbius oleh romantisme masa kemajuan peradaban Islam masa lalu, perlahan sedikit demi sedikit mulai menapaki kembali jalan peradaban yang pernah membumi pada masa lalu. Dengan semangat itu pula umat Islam semestinya dibarengi juga dengan penguasaan nilai-nilai Islami yang seharusnya, bukan dengan nilai-nilai yang teracuni oleh arus globalisasi yang menyesatkan, seperti sekulerisme maupun liberaisme.

Perkembangan ilmu pengetahuan barat sebenarnya lahir dari budaya sekulerisme bangsa barat, dengan ilmu pengetahuan tersebut mereka telah menjajah bangsa lain untuk kepentingan mereka sendiri. Bangsa timur yang sejatinya dulu perintis ilmu pengetahuan dan teknologi modern ironisnya kini justru menjadi pengikut bangsa barat. Demi mempertahankan eksistensinya maka bangsa timur seakan menghamba pada bangsa barat.

Termasuk umat Islam yang saat ini justru ikut menjadi konsumen ilmu pengetahuan barat. Seakan terpukau oleh keberhasilan materi yang tampak oleh mata, umat Islam pun terpukau oleh hal tersebut sehingga lupa akan dimensi lain yang menjadi ajaran Islam. Filsafat barat yang mengagung-agungkan rasio, yang sejatinya berbeda dengan filsafat timur yang mengakui adanya dimensi metafisik yang tidak cukup jika hanya diukur dengan pandangan mata saja. Padahal keberhasilan hidup itu tidak selalu diukur oleh ukuran banyaknya materi.

Dalam filsafat ilmu, paling tidak ilmu pengetahuan itu harus memiliki 3 unsur (Jujun S. Suriasumantri, 1998), yaitu yang pertama adalah Ontologi, Apa yang dikaji oleh pengetahuan itu? Objek apa yang menjadi bahan kajiannya? Penganut materialisme akan berpendapat bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini merupakan bentuk dari kekuatan alam itu sendiri. Mereka tidak mengangggap bahwa ada alam metafisika yang sebenarnya juga mengatur pergerakan alam ini. Sedangkan objek kajian Islam tidaklah sesuatu yang hanya tampak oleh indera manusia tetapi juga sesuatu yang bersifat ghoib.

Kedua adalah Epistemologi, bagaimana mendapatkan pengetahuan itu? Saat ini ilmuwan Islam terjebak pada metodologi yang digunakan dalam kajian ilmiahnya. Dalam kajian islamisasi science beberapa ilmuwan muslim masih menggunakan epistemologi barat yang hampa akan nilai-nilai teologi dan metafisika.

Metodologi barat yang ditopang oleh empirisme dan rasionalisme sebagai dasar utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Segalanya selalu dikembalikan pada bagaimana objek ilmu pengetahuan itu dapat dinalar secara rasio dan dapat dibuktikan secara eksperimen empiris. Jika, ini yang digunakan dalam islamisasi science maka yang timbul adalah kehampaan nilai spiritualitas, atau ilmu pengetahuan yang hanya berdasarkan praduga-praduga, atau prasangka-prasangka, atau usaha skeptis tanpa wahyu ( Adnin Armas, 2007, hal.vii).

Ketiga adalah Aksiologi, untuk apa pengetahuan termaksud digunakan? Hal ini berkaitan dengan tujuan suatu ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan, termasuk tanggung jawab terhadap sosial dan pada Allah SWT. Sehingga ilmu yang digunakan merupakan ilmu-ilmu yang tepat guna untuk kemaslahatan manusia. Bukan menghancurkan seperti yang dilakukan oleh ilmuwan barat, seperti Francis Bacon yang lantang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan akan bermanfaat jika tampak pada kekuasaan atau power manusia, sehingga yang muncul adalah penjajahan bangsa lain untuk kepentingan kekuasaan tersebut.

Proses Islamisasi science perlu mensinkronkan antara warisan ilmu pengetahuan oleh ilmuwan muslim terdahulu, juga perlu memelajari ilmu pengetahuan modern sehingga Islamisasi science dalam era kemajuan IPTEK ini dapat berkarakter dan berkembang secara keilmuannya. Selain itu, kebermanfaaatan IPTEK dalam kehidupan sosial perlu mendapatka perhatian yang khusus. Ilmu pengetahuan seharusnya mampu berangkat dari keterbutuhan umat, bukan memaksakan kehendak pada umat.

Mengutip dari seminar tentang “Pengetahuan dan Nilai-Nilai” di Stocholm, 1981, dengan bantuan International Federation of Institutes of Advance Study (IFIAS), dikemukakan 10 konsep Islam yang diharapkan dapat dipakai dalam meneliti sains modern dalam rangka membentuk cita-cita Muslim, yaitu Paradigma Dasar yang meliuti (1) Tauhid, meyakini hanya ada 1 Tuhan, dan kebenaran itu dari-Nya; (2) Khilafah, kami berada di bumi sebagai wakil Allah segalanya sesuai keinginan-Nya; (3) `ibadah (pemujaan), keseluruhan hidup manusia harus selaras dengan ridha Allah, tidak serupa kaum Syu’aib yang memelopori akar sekularisme: “Apa hubungan sholat dan berat timbangan (dalam dagang)”;Kemudian Sarana yang meliputi (4) `ilm, tidak menghentikan pencarian ilmu untuk hal-hal yang bersifat material, tapi juga metafisme, semisal diuraikan Yusuf Qardhawi dalam “Sunnah dan Ilmu Pengetahuan”; (5) Penuntun; (6) halal (diizinkan); (7) `adl (keadilan), semua sains bisa berpijak pada nilai ini: janganlah kebenciankamu terhadap suatu kaum membuat-mu berlaku tidak adil. (Q.S. Al-Maidah 5 : 8). Keadilan yang menebarkan rahmatan lil alamin, termasuk kepada hewan, misalnya: menajamkan pisau sembelihan; (8) istishlah (kepentingan umum).Pembatas yang meliputi (9) haram (dilarang); (10) zhulm (melampaui batas); (11) dziya’ (pemborosan), “Janganlah boros, meskipun berwudhu dengan air laut” (http://www.icas-indonesia.org/).

Paling tidak ada 2 hal yang perlu dipersiapkan saat ini dalam rangka mengembangkan Islamisasi science yang berkarakter, yaitu jangka pendek: membekali ilmuwan Islam dengan syakhshiyah Islamiyah, dan jangka panjang: perumusan kurikulum pendidikan Islam yang holistic.( http://www.banten.go.id/).Para kader ilmuwan muslim ini perlu mendapatkan cara pandang yang benar mengenai ajaran Islam, sehingga tergalinya potensi science Islami secara positif, bukan secara membabi buta terhadap nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Meskipun dalam perjalanannya Islamisasi Science masih bisa mengadaptasi ilmu-ilmu modern lain selama masih sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi, karakter Islamisasi science perlu diciptakan agar keilmuan dalam Islam bisa menjadi magnet dalam bagi ilmu-ilmu lain yang sejalan dengan ajaran Islam. Bukan Islam yang menyama-nyamakan dengan ilmu-ilmu pengetahuan lain. Dengan kata lain Islamisasi science perlu menjadi pusat bukan menjadi satelit bagi ilmu pengetahuan barat.

Selain itu, menumbuhkan kultur ilmiah di lingkungan akademis juga sangat diperlukan, melihat minat ilmiah pada mahasiswa khususnya juga masih rendah terutama di Indonesia. Di kalangan aktivitis dakwah kampus juga masih terbilang rendah, padahal dari sinilah stok sumber daya manusia yang akan berperan akan digunakan. Maka selain pembinaan secara ruhiyah maka perlu juga pembinaan mental akademis di kalangan para aktivitis dakwah kampus.

Pada akhirnya kita perlu kembali menyadari semua fenomena yang terjadi sesuai “ramalan” rasululloh sebagai tugas kita umat Islam untuk bersama-sama mewujudkan karakter keilmuan islam yang mempunyai daya guna bagi umat. Tidak lagi mengekor pada ilmu barat yang jauh dari kebenaran. Selain itu, perlu juga menumbuhkan lingkungan ilmiah yang kondusif dalam dunia Islam agar tumbuh potensi-potensi dari para ilmuwan muslim dan minat akan keilmuan yang tinggi.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: