Oleh: kesppi | 25 Desember 2009

Keluarga sebagai Pembentuk Karakter Anak

Oleh Fitria Susanti dan Novita

Essai ditulis dalam rangka Diskusi Ilmiah Mahasiswa tahun 2009

Definisi keluarga Menurut Ahmadi (2007, h. 221) adalah kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah kelompok yang terbentuk dari hubungan antara laki-laki dan perempuan yang berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak. Jadi keluarga dalam bentuk murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah satu kesatuan sosial yang terkecil yang terdiri dari suami istri dan jika ada anak-anak dengan didahului oleh perkawinan.

Karena beberapa sebab, peran sistem keluarga ini semakin kabur. Penyebab tersebut antara lain karena perubahan perekonomian, pengaruh individualisme, urbanisasi, emansipasi sosial wanita dan adanya pembatasan kelahiran yang disengaja. Sebagai akibatnya ada peranan-peranan sosial yang hilang dari keluarga, yaitu:

1. Keluarga berubah fungsinya, dari kesatuan yang menghasilkan menjadi kesatuan yang memakai semata-mata. Dahulu anggota keluarga menghidupi sendiri keluarganya, tetapi lama-kelamaan fungsi ini hilang karena telah dikerjakan oleh orang-orang tertentu.

2. Tugas untuk mendidik anak-anak sebagian besar diserahkan kepada sekolah-sekolah.

3. Waktu untuk bercengkrama dengan keluarga semakin berkurang karena munculnya perkumpulan-perkumpulan modern sehingga waktu luang menjadi semakin berkurang.

Keluarga dalam Islam Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. Sebelum ini, para ulama umat Islam telah menyadari pentingya pendidikan melalui keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

Salah satu tugas pendidikan yang penting dilakukan oleh orang tua adalah mengajarkan akhlak yang mulia kepada anak. Salah satu akhlak baik yang sering diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah empati. Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Suatu ketika para sahabat yang sedang berada di masjid Nabawi terusik kesyahduan dzikir mereka dan spontanitas bereaksi emosional tatkala seorang laki-laki Arab badui tiba-tiba berulah kencing di dalam masjid yang saat itu lantainya masih berupa tanah. Demi melihat situasi panas tersebut Rasulullah SAW dengan penuh empati dan kelembutan menyikapi dan meluruskan peristiwa tesa dan antitesa sikap reaksi berang sahabat dan aksi bodoh Arab badui tersebut. Beliau memerintahkan para sahabat untuk bersabar dan membiarkan Arab badui menyelesaikan hajatnya serta meminta mereka menyiram bekas kencingnya agar merembes ke tanah dan hilang najisnya. Setelah situasi reda dan dapat diatasi, Rasulullah segera memanggil mereka semua. Beliau memberikan bimbingan kepada para sahabat tentang sikap empatik yang akan membawa hikmah yaitu dengan memaklumi ketidaktahuan Arab badui tersebut, menyadari reaksi kesabaran akan dapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Para sahabat akhirnya mengerti bahwa sikap empati yang membuahkan solusi masalah dengan menyiram dan membersihkan kencing sebagai pelajaran bagi si badui bahwa perbuatannya tidak benar yang telah mengotori tempat yang seharusnya dijaga kesuciannya. Selain itu, mereka menyadari bahwa bersabar menanti selesainya kencing si badui akan menghindari tiga mudharat yakni gusarnya si badui yang merasa terusik hajatnya, menyakiti saluran kencing si badui yang terganggu kelancarannya, dan meluasnya area najis akibat kepanikan si badui dalam menuntaskan hajatnya.

Kepada si badui Rasulullah SAW memberikan pemahaman secara halus bahwa perbuatannya tidak benar karena telah kencing di masjid dan itu tidak pada tempatnya sebab masjid dibangun sebagai tempat suci untuk dzikrullah dan shalat. Jelang mendapat penjelasan empatik Rasulullah SAW, si badui sangat terpesona padanya dan sebaliknya masih kecewa dengan sikap berang sahabat seraya berdoa “Ya Allah masukkanlah aku dan Muhammad ke dalam surga dan janganlah Engkau masukkan ke dalamnya seorang pun selain kami.” Lagi-lagi demi mendengar doa yang tidak arif itupun Rasulullah menyikapinya dengan penuh empati demi melihat kenaifannya tanpa membodoh-bodohkannya seraya meluruskan doanya: “Wahai kamu, ketahuilah bahwa surga itu sangat luas dan jika kita berdua saja yang masuk niscaya akan sangat kesepian”.

Itulah salah satu teladan Rasulullah SAW dalam mengajarkan umatnya untuk berempati. Merupakan kewajiban bagi para orang tua untuk melanjutkan ajaran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Bentuk pengajaran empati kepada anak, salah satunya dapat dilakukan dengan melatih anak berpuasa. Puasa Secara bahasa, puasa berarti menahan atau menjauhi sesuatu (Ayyub, 2007, h. 551). Adapun secara syari’at puasa berarti menahan diri dari segala yang membatalkannya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, yang disertai dengan niat beribadah puasa.

Latihan berpuasa sesungguhnya memberikan banyak manfaat pada anak. Latihan puasa yang baik dan benar dapat meningkatkan hormon pertumbuhan anak. Selain itu, puasa juga dapat mencerdaskan emosi anak. Adapun aspek pendidikan moral yang dapat dilatih saat berpuasa menurut Qhania (2007, h. 65) adalah sebagai berikut:

1. Melatih anak bersabar berbagai perilaku negatif dapat dikendalikan dengan berpuasa. Dengan puasa anak dilatih untuk bersabar, selain itu juga anak dilatih bersikap jujur, tahan derita, tahan ujian, berkemauan kuat, serta tidak cepat mengeluh dan berputus asa.
2. Membangun kepercayaan diri anak selama menjalani latihan puasa, sesungguhnya anak sedang berusaha membuktikan kemampuan dirinya. Namun, orang tua perlu mencermati kemampuan anak tanpa merusak kondisi fisik dan psikisnya. Senantiasa memberikan motivasi yang tepat akan membuat anak semakin percaya diri.
3. Menumbuhkan sikap empati bagi anak empati adalah wujud pemahaman anak terhadap apa yang dirasakan orang lain. Mengajarkan empati kepada anak merupakan sesuatu yang penting karena empati merupakan motivator penting bagi perilaku menolong. Puasa dapat mengajarkan anak untuk ikut merasakan kesulitan orang lain.sifat empati dapat mendorong anak untuk berbagi dengan orang lai, mengorbankan milik sendiri untuk membahagiakan orang lain.
4. Memupuk solidaritas puasa selain menumbuhkan kemampuan anak untuk merasakan kesulitan orang lain juga memupuk rasa santun kepada orang lain yang kurang beruntung.orang tua dapat memberi contoh dan menjelaskan realitas lain di masyarakat bahwa ada orang lain yang kekurangan dan harus dibantu, misalnya dapat dilakukan dengan mengunjungi pantia asuhan atau bersedekah kepada kaum dhuafa.
5. Menanamkan sikap hemat puasa mengajarkan pola hidup sederhana yang ideal. Mengubah pola makan dari tiga kali menjadi dua kali, menghilangkan camilan di sore dan siang hari adalah cara mengendalikan diri agar tidak berlebihan dalam urusan makan. Pola ini mengajarkan anak agar hidup hemat dan tidak boros atau berlebih-lebihan.
6. Menjalin rasa kebersamaan anak dengan anggota keluarga lainnya melibatkan anak dalam kegiatan ibadah seperti shalat berjamaah, sahur, dan berbuka puasa bersama sekaligus berbagi tugas dalam menyiapkan kegiatan tersebut dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dalan keluarga.
7. Mengajarkan anak untuk mencintai ibadah kepada Allah SWT teladan orang tua dalam beribadah dengan melibatkan anak dalam kegiatan tersebut sangatlah penting. Meski hanya meniru, tapi anak meniru sikap yang baik dari orang tuanya. Kapan saat yang baik mengajarkan anak berpuasa Menurut ilmu kesehatan anak, tidak ada patokan yang baku kapan waktu yang tepat bagi anak untuk berpuasa.

Pakar psikologi Dra. Andriani Purbo, M. Psi, MBA, mengatakan bahwa usia tiga tahun adalah usia yang tepat untuk mengenalkan suasan di bulan ramadhan. Pada usia ini, anak belum mengerti arti puasa sehingga orang tua dapat menyampaikan pesan puasa dengan cara mengenalkan suasananya terlebih dahulu, seperti sahur, shalat tarawih, dan buka puasa. Berbeda halnya dengan pendapat dari Prof. Dr. dr. Dedi Soebarja, Sp. A(K) yang mengatakan bahwa latihan puasa dapat dilaksanakan saat anak sudah dapat bersosialisasi dan membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak. Pendapat di atas diperkuat dengan temuan tentang otak yang dipublikasikan tahun 1997 di Amerika.

Temuan tersebut menjelaskan mengapa anak perlu belajar sesuatu sedini mungkin. Saat anak lahir, Allah SWT menciptakan milyaran sel otak yang belum terhubung satu sama lain. Sel-sel ini akan terhubung bila anak mendapat stimulasi dengan penuh kasih sayang. Hubungan sel-sel tersebut (sinaptogenesis) mencapai trilyunan ketika anak mencapai 3 tahun.

Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Ayyub, Hasan Muhammad. 2007. Panduan Beribadah Khusus Pria. Jakarta: Almahira.

Mengasah Empati Berbagi Simpati. diperoleh dari http://www.dakwatuna.com/wap/index-wap2.php?p=3842. 2009.

Qhania, Ummu. 2007. Sukses Melatih Anak Berpuasa. Jakarta: Penebar Plus.

 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: