Oleh: kesppi | 4 November 2009

Cinta : Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah

Oleh Ardian Agil Waskito*

Essai ditulis dalam rangka Diskusi Ilmiah Mahasiswa Psikologi Islami Kesppi tahun 2009

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah

Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,

supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,

dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda

bagi kaum yang berfikir.”

(QS. Ar Ruum, ayat 21)

Cinta adalah kata yang melingkupi kita dalam kehidupan sehari-hari. Cinta adalah sesuatu yang misterius kata Rumi, tapi karena kemisteriusannyalah kita terus mencarinya. Dalam kehidupan berkeluarga, tentu saja cinta merupakan pilar utama dalam mensintesa kehidupan berumah tangga yang bahagia.

Kata-kata sakinah mawadah wa rahmah adalah kata-kata yang tidak asing di telinga kita. Terkadang ketika ada kerabat atau teman yang menyelenggarakan acara pernikahan, kata-kata itu termaktub dalam kartu ucapan yang kita berikan atau juga dalam lisan kita. Tentu kata-kata ini bukan sekedar pemanis bibir ketika memberikan ucapan. Melalui tulisan sederhana ini saya mencoba memberikan sebuah konsepsi cinta dari konsep sakinah mawadah wa rahmah, dalam membangun pondasi yang kokoh dalam bangunan rumah tangga bahagia dan penuh cinta.

Dalam pemikiran psikologi barat tentu kita pernah mengenal empat ciri cinta yang dikemukakan oleh Erich Fromm, yaitu tahu, peduli, respek dan tanggung jawab. Kita tentu juga akrab dengan istilah tringular love dari Stenberg, yang membatasi cinta hanya dalam tiga aspeknya yaitu keintiman, gairah dan komitmen. Atau teori-teori lain yang memcoba mendefinisikan cinta, mengkotak-kotakkan cinta dalam pembatasan melalui aspek-aspeknya.

Pada dasarnya upaya itu bagi saya hanyalah upaya yang mereduksi makna dari cinta itu sendiri. Seperti dalam pandangan Stenberg, maka cinta hanya dibatasi dalam hubungan antara lawan jenis lewat aspek kegairahan dalam pandangannya. Padahal cinta juga melingkupi hubungan Ich-Du (memakai bahasa Martin Buber), yang melingkupi cinta sang Aku hingga kepada Allah dengan kegairahannya yang abstrak.

Dengan kesadaran atas sekedar mencoba mencapai hampiran pada hamparan ketidakterbatasan makna, saya mencoba menjabarkan cinta dalam konsep sakinah, mawadah wa rahmah.

Makna asal sakinah adalah ketentraman. Ketentraman inilah yang melandasi kehidupan manusia dalam mencapai kebahagiaannya. Seorang suami yang merasa tentram dengan istrinya, atau seorang ibu yang merasa tentram dengan anak-anaknya, atau juga anak-anak yang merasa tentram hidup dengan kedua orang tuanya, akan menciptakan cinta dalam kehidupan berkeluarga.

Menciptakan ketentraman dalam berkeluarga tentu bukanlah hal yang mudah. Ketentraman ini perlu dilandasi dengan keikhlasan, menerima anggota keluarganya apa adanya dan menerima dan menjalankan hak dan kewajian sesuai dengan perannya dalam keluarga. Dan tak ketinggalan tentunya adalah pola pengasuhan yang mampu meciptakan ketentraman bagi keturunan mereka, sehingga anak-anak mereka pun akan memberikan ketentraman bagi orang tua.

Untuk mencapai ketentraman itu semua, kita harus melalui ketentraman yang menembus hakekat segala sesuatu (meminjam istilah Jalaludin Rumi). Ketentraman ini merupakan ketentraman batin, dengan jalan membangun hubungan yang khusyuk dengan Allah SWT. Ketentraman puncak dalam hubungan dengan Allah inilah yang nantinya akan menembus hingga ke relung-relung kehidupan kita. Karena kita akan senantiasa hidup dalam tiap pedoman sang pemberi hidup.

Sementara itu makna mawaddah adalah kasih, dan rahmah adalah sayang. Mawadah, ibarat cinta yang membara, ia bagaikan passionate love, yang senantiasa membutuhkan pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhannya. Namun tentunya ia tak hanya bergerak dalam kegairahan dalam artian hubungan antar sesama manusia, tapi ia juga bergerak dalam kegairahan yang abstrak termasuk juga akan kebutuhannya untuk menjalin keterhubungan dengan Allah. Karena pada dasarnya manusia pun akan kembali pada cintanya terhadap Sang Pencipta. Sementara rahmah ibarat companionate love, ia merupakan cinta yang lembut, yang penuh dengan rasa sayang dan melindungi yang lain, termasuk juga melindungi iman dan taqwa terhadap Allah di dalam dirinya.

Tiga konsep ini tentunya menjadi hal yang penting untuk senantiasa dikembangkan dalam menciptakan cinta dalam berumah tangga. Adalah hal yang mutlak untuk mewujudkan ketentraman dalam tiap hubungan dengan semua anggota keluarga. Diantaranya adalah dengan mewujudkan rasa kasih dan sayang, yang kuat namun penuh dengan kepedulian untuk melindungi dan saling menjaga serta membimbing tiap anggota keluarga. Adalah suatu keindahan dapat mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah dengan diawali hubungan cinta yang lebih sakinah mawadah wa rahmah dengan Allah SWT.

Ardian Agil Waskito*

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, Semarang; Peminat Psikologi Islami

 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: