Oleh: kesppi | 20 Mei 2009

Idealisme Guru, Masih Adakah?

Idealisme Guru, Masih Adakah?

Oleh Aftina Nurul Husna

Mendengar kata idealisme, kira-kira hal apakah yang seketika itu terlintas dalam pikiran kita ? Suatu nilai luhurkah ? suatu hal yang langka dan sulit ditemui, atau bahkan mungkin mendengar kata idealism, hal yang pertama terlintas dalam pikiran kita adalah suatu hal yang terlalu mengada-ada dan mustahil untuk diwujudkan. Memang tidak dipungkiri bahwa persepsi yang demikian akan banyak dimiliki orang ketika mereka mendengar kata idealism.

Menurut kamus Oxford, “idealism is the practice of forming, pursuing or believing in ideal , even when this is not realistic.” Idelisme diartikan sebagai suatu upaya untuk membentuk, mengikuti ataupun mempercayai nilai-nilai ideal, walaupun hal tersebut tidak realistis. Melihat pengertian yang telah disajikan, kita seperti digiring untuk memahami idelaisme sebagai suatu hal yang melangit, sebuah gagasan yang tidak membumi dan tidak realistis, jika sudah demikian, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mencapai sebuah idealism merupakan hal sangat sulit.

Menilik kepada kenyataan demikian yang ada pada masyarakat mengenai idelaisme itu sendiri, maka sekiranya kita patut bertanya, sebenarnya berasal dari manakah “makhluk” yang bernama idealisme ini ?

Sejatinya, idelaisme berasal dari sebuah naluri kepahlawanan. Lantas apa pula yang dimaksud dengan naluri kepahlawanan ? naluri kepahlawanan merupakan suatu kekaguman yang dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu, yang membuat sang pengagum tersebut bertanya pada diri mereka sendiri, dapatkah mereka malakukan hal yang sama bahkan lebih dari sesuatu yang mereka kagumi tersebut.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah, cukupkah hanya dengan naluri kepahlawanan, dapat , menggiring seseorang untuk memiliki sebuah idealism, bahkan bukan hanya memiliki, tetapi juga dapat dijadikan sebagai sebuah tongkat petunjuk dan pedoman yang akan menuntun seseorang dalam setiap langkahnya.

Ternyata, dengan hanya memilki naluri kepahlawan belum cukup untuk menumbuhkan sebuah idealism pada diri seseorang. Naluri kepahlawan merupakan akar dari pohon kepahlawanan. Pohon kepahlawanan inilah yang nantinya akan menghasilkan buah berupa idelaisme. Jika kita analogikan seperti sebuah pohon, sebuah pohon akan berdiri dengan tegak dan sampai menghasilkan buah yang berkualitas bila memiliki akar yang kuat dan berkualitas pula, seperti juga sebuah idelaisme akan lahir dari sebuah naluri kepahlawanan yang akan menopang pohon kepahlawanan dan hasilnya adalah tumbuhnya buah idealism. Namun, akar yang kuat akan sia-sia jika tidak didukung dengan batang yang kuat pula. Maka batang yang kuat juga diperlukan. Dalam hal ini, keberanianlah yang kemudian menjadi batang yang kuat yang akan menumbuhkan pohon idealisme dari pohon tersebut.

Sudah cukupkah semua hal tersebut di atas?? Naluri kepahlawanan yang bertindak sebagai akar dari pohon kepahlawanan, dan keberanian yang bertugas sebagai batang pohon kepahlawan tersebut. Ternyata seperti telah tertasbihkan dalam sunatullah, untuk mencapai suatu hal yang ideal, tentu tidak mudah dn pasti banyak rintangan yang harus dilalui. Seperti juga menciptakan sebuah idelaisme yang kemudian dapat mengakar kuat dan bercokol dalam diri seseorang, diperlukan tenaga besar untuk dapat melalui setiap tantangan, hambatan, dan kesulitan yang pasti akan menghadang silih berganti. Lalu, dari manakah kita bisa mendapatkan tenaga yang besar tersebut ?

Ternyata tenaga yang besar tersebut dating dari kesabaran. Ya, kesabaran. Mungkin kesabaran merupakan hal yang mudah untuk diucapkan, tetapi hal ini cukup sulit untuk benar-benar diwujudkan. Jika diistilahkan di dalam dunia psikologi, keberanian yang dikatakan sebagai batang dari pohon kepahlawanan yang akan mengawali lahirnya idealism, maka hal ini menjadi aspek ekspansif yang mampu menggiring individu untuk malakukan aksi dari idealism yang ia miliki. Sedangkan kesabaran, menurut istilah psikologi dapat berperan sebagai aspek defensive dalam suatu upaya untuk mempertahankan sebuah idealism. Ada atau tidaknya kesabaran pada diri seseorang ketika ia melakukan usah mempertahankan idealismenya, akan menentukan lama atau tidaknya keberanian seseorang, yang ujung-ujung nya akan juga berimbas pada kuat tidaknya idealisme yang dipegang oleh seseorang.

Pertanyaan berikutnya yang akan menyertai adalah apakah urgensi idealism dalam kehidupan manusia. Atau dapat dikatakan seberapa penting idealism dimiliki oleh setiap manusia dalam kehidupannya? Untuk menjawab hal ini tentu saja kita harus merujuk kepada pandangan hidup dan prinsip yang dimiliki oleh setiap orang, dan tentu saja hal ini akan menimbulkan idividual differences (perbedaan-perbedaan individu). Namun, sejatinya ada suatu hal yang dapat kita jadikan sebagai kesepakatan bersama megenai hal ini. Yaitu, jika frame berpikir kita telah benar-benar menyadari bahwa idealism bukanlah nilai yang tidak realistis, tidak membumi dan oleh karena itu sangat sulit untuk diwujudkan. Sehingga kita dapat sampai kepada pemikiran bahwa idelaisme merupakan nilai luhur yang agung dan hal inilah yang sebenarnya Tuhan (Allah SWT) inginkan kita miliki dalam kehidupan kita. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda tentang idealisme, dengan berpandangan bahwa memang inilah yang Tuhan inginkan dari kita untuk kita miliki, maka kita pun akan menjadikan upaya-upaya untuk memiliki, menjalankan dan mempertahankan sebuah idealism merupakan hal yang penting.

Hal lain yang yang dapat kita pergunakan untuk dapat mengubah sudut pandang kita dalam menilai sebuah idealisme adalah nilai yang akan kita dapatkan dari pekerjaan yang kita lakukan, yang bukan hanya berhenti pada performa yang kita berikan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan yang tentu saja lebih mudah diamati, tetapi juga nilai implicit yang pasti terkandung dalam setiap pekerjaan tersebut, yang sebagian besar memang sulit untuk dinilai secara eksplisit atau kasat mata.

Dengan melihat urgensi dari memiliki sebuah idealism, maka tak ragu lagi jika setiap pekerjaan yang kita lakukan, harus dilandasi dengan sebuah konsep idealism. Bila kita melihat lebih dalam lagi, sesungguhnya pekerjaan yang paling mudah untuk kita dalam menerapkan idealism adalah pekerjaan yang berhubungan dengan pengabdian.

Pengabdian, sesungguhnya memang merupakan tugas dan amanah yang diemban oleh tiap-tiap manusia. Pekerjaan ini sungguh sangat mulia untuk dilakukan. Salah satu pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian adalah menjadi seorang guru (pendidik). Menjadi seorang guru (pendidik) bukan perkara yang mudah. Sebab kita tidak hanya dituntut untuk dapat menyampaikan materi kepada peserta didik, tetapi lebuh dari itu, seorang pendidik sejati harus mampu mengubah peserta didiknya menuju ke arah yang lebih baik.

Jika setiap pendidik di ibu pertiwi ini memilki pola pikir yang demikian, maka sungguh baik system pendidikan di Indonesia, lebih jauh lagi sungguh gilang-gemilang masa depan bangsa ini nantinya jika para peserta didik (para generasi muda) dididik oleh para pendidik yang mengerti benar arti sebuah idealism dalam dunia pendidikan.

Pertanyaan besar yang harus dijawab sekarang adalah, masih adakah idealism dalam jiwa para pendidik di Indonesia. Pertanyaan ini sesungguhnya cukup membuat kita menjadi prihatin, dengan melihat kenyataan dunia pendidikan saat ini, dimana para pendidik sudah tidak lagi menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik, tetapi tidak lebih hanya sebagai pengajar. Sungguh ironi memang, jika melihat korelasi antara kondisi bangsa saat ini dengan kenyataan kondisi para “pendidik” kita.

Hal tersebut, sesungguhnya ingin coba dituangkan dalam sebuah film fenomenal yang mebuat kita bertanya kembali masih adakah sosok pendidik seperti itu di tanah air kita tercinta ini. Film ini mengisahkan tentang perjuangan anak-anak kampung belitong untuk dapat tetap menuntut ilmu, karena mereka yakin dengan ilmu maka mereka akan mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Di tengah kemarginalan yang harus mereka hadapi, semangat mereka untuk menuntut ilmu sungguh tinggi. Dengan dukungan dari dua orang guru yang tetap memegang teguh idealism dan keyakinan meraka untuk tetap mendidik sekelompok anak yang bernama Laskar Pelangi.

Sungguh, proses terbentuknya idealism dalam diri bu Mus dan pak Arfan benar-benar terlukis dengan baik dalam film tersebut. Dimana idealism yang awalanya terbangun oleh sebuah naluri kepahlawanan benar-benar terlihat pada diri bu Muslimah dengan melihat sosok ayahnya dan juga sosok pak Arfan. Kamudian naluri kepahlawanan itu diperkuat dengan adanya keberanian yang dimiliki oleh bu Mus dan pak Arfan dalam menghadapi berbagai tantangan yang siap menghadang langkah mereka dalam mendidik Laska Pelangi. Kemudian nyawa keberanian tersebut dihembuskan oleh adanya kesabaran yang dimiliki baik oleh bu Mus maupun oleh pak Arfan. Lalu itu semua menghasilkan buah idealism yang akhirnya membuat beliau berdua bertahan dalam mendidik Laskar Pelangi. Bisa saja kalu belia berdua kehendaki, ketika ujian dan rintangan datang menghadang, mereka berhenti dan menyerah dalam menjadikan Laskar Pelangi menjadi manusia-manusia yang dapat bermanfaat bagi sekitarnya. Seperti semangat dan prinsip yang selalu dipegang teguh oleh pak Arfan yaitu “hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.”

Satu keprihatinan lagi yang muncul ketika kita menelisik lebih jauh lagi mengenai ada tidaknya idealism guru di Indonesia yang juga berhubungan dengan prinsip yang mengawali munculnya idelaisme yaitu berupa naluri kepahlawanan yang didapatkan dari hasil kekaguman. Jika dalam ilmu psikologi, dikenal teori belajar modeling Albert Bandura, maka ini juga yang berlaku dalam penciptaan idealism pada diri seseorang. Rasa kagum yang kemudian menimbulkan hasrat untuk dapat berbuat sama dengan orang dikagumi dapat diartikan sebagai pentingnya keteladanan dalam system pendidikan di Indonesia. Keteladanan atau contoh atau modelling dapat diperoleh dari lingkungan. Seorang murid yang kita asumsikan sebagai generasi penerus bangsa tempat ujung tombak bangsa ini ditentukan, akan sangat membutuhkan sosok yang dapat dijadikan sebagai model. Namun sayang dengan melihat kondisi sekarang, nampaknya kita harus bersedih dengan minimnya sosok guru yang dapat dijadikan sebagai model bagi generasi muda Indonesia. Ironi memang ketika akhirnya hal ini harus menjadi seperti “lingkaran setan” yang membayang-bayangi masa depan bangsa ini.

Secepatnya kita harus menemukan pemecahan dari permasalah ini. Apa yang dapat kita lakukan ? Pertama yang harus kita lakukan adalah memperbayak tontonan yang kemudan dpat dijadikan sebagai tuntunan (model) kita. Namun, untuk melakukan hal ini saja, bangsa Indonesia sudah harus dihadapkan pada suatu “problematika khas” bangsa kita. Hal ini berupa adanya hijab (penghalang) psikologis yang sudah terpatri dalam diri masing-masing anak bangsa negeri ini. Mereka sudah terbiasa disuguhi dengan tontonan yang tidak dapat dijadikan sebagai tuntunan dan cenderung bersifat negative. Sehingga bila terdapat hal yang “seharusnya”, mereka akan menganggap hal tersebut sebagai hal yang berlebih-lebihan dan janggal. Hal inilah yang juga menjadi salah satu penghalang kemajuan bangsa besar.

Kedua adalah kita harus sesegera mungkin menemukan inspirator dalam hidu kita untuk kemudian dapat kita jadikan sebagai acuan kita dalam menetukan idealism dan kemudian bertahan di dalamnya. Inspirator ini bisa kita dapatkan di mana saja.

Kemudian jika kita berbicara mengenai karakter apa yang harus dimiliki oleh seseorang ketika dia memutuskan untuk menjadi seorang guru (pendidik) dapat mengambil dari inspirasi Bilal bin Robbah, dimana dalam inspirasinya kita disentil akan pentingnya kesadaran dalam melakukan segala tindakan dalam hidup kita. Billal, yang seorang budak, memeluk agama Islam dengan penuh kesadaran. Dia mengerti benar konsekuensi yang harus ia hadapi ketika ia mengambil keputusan tersebut. Billal memeluk agama Islam, dia melakukannya dengan penuh kesadaran akkan pilihanb hidupnya. Inilah yang harus dimiliki oleh para calon pendidik di Indonesia. Mereka harus benar-benar sadar bahwa menjadi pendidik merupakan pilihan hidup mereka, dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Semoga dengan upaya ini, para pendidik Indonesia memiliki idelaisme terhadap karya mereka untuk mencetak para pemimpin bangsa di masa akan datang.

Dep. Penelitian dan Pengembangan Kesppi


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: