Oleh: kesppi | 25 Mei 2008

Be A Muslim Psikologist: Why Not!

Laporan dari Diklat Kesppi 2007

Bedah Buku “Dilema Psikolog Muslim” bersama Bu Aang (Unissula)

Pendahuluan

“Apa beda stres seorang pria pada kondisi : a) pacarnya hamil diluar nikah, b) istrinya hamil, c) pacar dan istrinya hamil bersamaan?” tanya kandidat doktor UGM, Bu Anggraeni, kepada calon psikolog muslim Kesppi ketika membedah buku Dilema Psikolog Muslim karya Malik Badri dalam acara Diklat I kesppi, 10-11 Mei 2008 di pondok sisemut beberapa waktu yang lalu.

“Jelas beda”, kata dosen psikologi UNISSULA itu. Seorang pria akan mengalami stres bila pacarnya ternyata hamil di luar nikah. Apa sebab? Karena dalam Islam berbuat zina adalah perbuatan dosa dan hukumannya berat. Merasa berdosa dan menjalani hukuman sebagai konsekuensi kesalahannya dengan dicambuk seratus kali, tidak akan mungkin tidak, mendatangkan stres baginya.

Seorang pria akan mengalami depresi apabila istrinya hamil. Ia harus menyiapkan kebutuhan-kebutuhan bagi sang istri dan calon anaknya kelak. Tidak lain pula menyiapkan kecukupan dan kelayakan kesejahteraan bagi keluarga. Pikiran sang pria terkuras untuk mencukupi kebutuhan bagi keluarganya itu. Tidak jarang dalam memenuhi kebutuhan ini mendatangkan depresi.

Begitu pula, seorang pria bila pacar dan istrinya hamil secara bersama-sama. Ia akan panik. Kenapa? Karena nyawanya diambang ancaman kematian. Ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sudah punya istri ditambah meghamili seorang wanita lagi. Hukumannya rajam sampai mati. Dalam keadaan begini bukan tidak mungkin akan panik, bagi masyarakat yang normal.

Lalu apakah hal demikian ditemukan dalam psikologi barat? Dalam psikologi barat (baca psikoanalisis, behaviorisme, humanistik,dll) tidak mengenal demikian. Alasan utama untuk menjelaskan tidak lebih dari manusia itu unik. Manusia memiliki potensi dan ciri khas sendiri yang membedakan dengan lainnya. Apalagi dengan kasus diatas, tentu di dunia barat tidak mengenal istilah hukuman sebagai konsekuensi perilaku yang menyimpang. Ini berbeda jauh dengan islam. Apa yang bisa diperbuat psikolog dalam mengatasi stres dalam kondisi di atas?

Selanjutnya, dalam bedah buku Dilemma Psikolog Muslim ini, peserta ditontonkan sebuah film yang menarik. Dalam film itu diceritakan ada sepasang individu yang dilihat dari arah vertikal dengan jarak dekat. Kemudian jarak penglihatan diperpanjang. Dan terus diperpanjangg sehingga menembus batas dunia, tata surya, galaksi, sampai berjarak berjuta-juta tahun cahaya. Ketika dilihat dari jarak berjuta-juta tahun cahaya, sepasang manusia yanng ada di taman, di bumi, seakan tidak ada apa-apanya. Perbandingan besarnya manusia dengan alam raya tidak seimbang. Sehingga manusia itu tidak lebih dari sebutir debu dalam susunan alam raya. Setelah melihat perbandingan manusia secara eksternal maka, dilanjutkan melihat manusia secara internal. Mulai dari individu, sistem organ, organ, sel, atom, gen dan sampai mikroskop dalam film itu tidak mampu meneropong kecilnya materi. Sehingga ada pertanyaan yang muncul apa itu sebenarnya manusia? Pertanyaan inilah yang terus mengundang para ilmuwan untuk mengkaji ilmu pengetahuan, utamanya berkaitan dengan manusia. Inilah yang dinamakan susunan macrokosmos dan mikrokosmos kehidupan.

Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi,Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. Qs al a’laa :1-3

Psikolog Dilubang Biawak

Dalam diskusi tersebut, diungkapkan sekarang ini psikolog muslim, dengan meminjam istilah Malik Badri, sedang berada di “lubang biawak”. Psikologi secara istilah sebagai ilmu yang mempelajari jiwa manusia, ternyata saat ini masih jauh dari harapan. “Psikologi merupakan ilmu jiwa tanpa jiwa yang mempelajari manusia tidak berjiwa,” tuturnya. Padahal manusia adalah misteri dan sempurna penciptaannya. Psikologi dengan segala tes yang sekarang dipakai menisbahkan diri mampu membaca jiwa manusia melalui perilakunya, hal ini tidak lebih dari mengaku-aku saja. Terlalu menyederhanakan manusia menjadi gejala-gejala perilaku yang nampak.

Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? Qs. Adz-dzariyaat :21
Dalam kesempatan ini, Bu Aang, begitu sapaan akrabnya, menjelaskan teori psikologi barat berasal dari doktrin-doktrin kehidupan masyarakat yang meterialis dan hedonis. Sehingga menimbulkan berbagai penyakit baik psikis maupun fisik secara lambat laun kita merasakannya tanpa sadar. Akibat dari budaya hidup yang demikian muncul rasa individualis, exciting mania, terpesona dengan penemuan-penemuan baru, cemas, kesepian. Bentuk-bentuk demikian tidak lebih rasa sakit yang ditunjukan oleh manusia. Ketika secara pribadi manusia telah sakit maka akan menimbulkan asosial-asusila, malsuai, psikopat.

Masyarakat yang hidup dalam suasana tidak karuan ini berusaha mencari penyelesaian dan bertanya agar hidupmereka lebih baik lagi. Kemudian mereka akan merujuk ke psikolog. Harapannya mereka dapat menemukan jawaban dari pertanyaan yang menghantui hidup mereka selama ini, sayangnya pula para psikolog tidak jauh dari apa yang mereka alami. Teori yang digunakan dan saran yang diberikan tidak kunjung menyelesaikan masalah karena psikolognya pun sakit. Lebih lagi obat yang diberikan merupakan extract kehidupan budaya materialis dan hedonis, Sehinggga kehidupan hanya berulang terus menerus, tidak menyelesaikan masalah manusia yang sebenarnya.malah menambah masalah lebih pelik lagi. Inilah lubang biawak yang mengancam para psikolog muslim.

Menurutnya para psikolog muslim indonesia saat ini mengalami kepribadian ganda (split personality); ketika memberikan jasa psikologis menggunakan metode barat dan ketika beribadah menggunakan pedoman islam, padahal dasar keduanya tidak sejalan, banyak perbedaannya. Selain itu, psikolog kita masih tidak berani mengungkapkan pendapatnya sendiri, meng-ekor “biawak”, menjadi biawak kecil, sekulerisme, sakit …bahwakan lebih sakit lagi.  Psikologi barat yang dipelajari merupakan ilmu kesehatan mental yang tidak sehat, sesat menyesatkan, tidak takut salah. Lebih dari itu, “ahli neraka’, ungkapnya. Namun demikian, Beliau mengungkapkan pula bahwa tidak selalu psikologi barat itu jelek.

Maka sudah saatnya kini mengembangkan Psikologi yang bernuansa islami dengan pendekatan kejiwaan yang islami berdasar al quran dan assunah serta penelitian–penelitian yang tidak menyimpang dari kedua petunjuk hidup kaum muslim, konsep yang benar, holistik-integral, mempelajari manusia sebagai hamba-individu masyarakat.

Keluar Dari Lubang Biawak

Ketika pada kenyataannya psikologi barat tak memiliki jiwa dan bertentangan dengan islam dalam menjelaskan konsepsi manusia, pertanyaannya bagaimana dengan sikap kita? Disini tulisan Malik Badri sangat cocok menjelaskan:
“…psikologi modern tidak selalu ‘Barat’. Ini menyangkut sekumpulan pengalaman manusia tentang manusia.psikologi modern telah mengarahkan pengalaman-pengalaman ini dengan lebih baik, yaitu melalui observasi, eksperimen, dan pengukuran”.

Selebihnya ia berpendapat:
“Negara atau masyarakat islam tidak bisa mengisolasikan diri dari peradaban barat dan pengaruhnya yang membahayakan, namun kita bisa “memberikan Vaksinasi” kepada murid-murid kita agar mereka bisa melawan “infeksi” barat yang membahayakan itu. Jika kita, misalnya tidak menhgajarkan psikoanalisa, mereka dapat melihat film-film yang secara sensasional menggambarkan aspek-aspek buruk dari teori itu sebagai fakta-fakta ilmiah… oleh karena itu, teroi itu harus diajarkan dengan cara yang kritis pada murid-murid kita agar mereka dapat mengupasnya dari sudut pandang yang islami dan ilmiah.”

Menurut Malik Badri untuk keluar dari liang biawak ini, dapat dicermati dari fase-fase selama ini berjalan dalam lingkungan psikolog muslim, yakni pertama, fase terpesona; dalam fase ini psikolog muslim tergila-gila dan terpikat dengan teori dan praktek psikologi barat. Psikolog muslim menerima dan bersikap terbuka dengan ide dan gagasan yang berkembang tanpa adanya penyaringan. Psikolog muslim merasa bangga dan prestise dengan apa yang ia peroleh. Hingga ia tak sadar masuk dalam lubang biawak. Di fase ini pikolog muslim akan mengembangkan diri dalam kepribadian ganda-penganut aliran freud dan muslim.

Kedua, fase penerimaan; pada fase ini psikolog muslim mulai menyadari bahwa psikologi ada batasannya. Psikolog muslim mencoba menjembatani perbedaan yang dia terima dalam dimensi kognitif antara islam dan teori psikologi barat melalui kompromi meskipun masih artifisial (palsu). Para psikolog muslim mencocokkan teori psikologi barat dengan islam tanpa penyaringan ketat. Tidak jarang malah mengacaukan al quran dan assunah hanya untuk mencari pembenaran teori psikologinya.

Ketiga, fase emanasi; dalam fase ini psikolog muslim menyadari adanya perbedaan mendasar dalam konsep hidup, meskipun mereka masih menemukan keduanya-teori psikologi barat dan islam- memiliki kesamaan yang artifisial. Psikolog muslim menyadari bahwa eksistensinya yang utama adalah ia sebagai seorang muslim, baru setelah itu sebagai psikolog. Psikolog muslim tidak terjebak dalam kode etik psikologi yang membelenggu dirinya sebagai seorang muslim.
Apakah setiap psikolog muslim akan mengalami setiap fase demikian urut? Tidak gampang untuk keluar dari lubang biawak. Kenyamanan yang ditawarkan dalam lubang biawak telah menutupi diri psikolog muslim sebagai muslim. Oleh karena itu, perlu daya juang yang lebih untuk keluar dari lubang biawak baik yangtelah keluar dari belenggu teori psikologi maupun yang belum.

Allah swt menyampaikan:
…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Qs ar ra’d: 11

Referensi

Badri, M. B. 1993.  Dilema Psikolog Muslim. Jakarta: Pustaka Firdaus.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: