Oleh: kesppi | 21 Januari 2009

Islamisasi Pengetahuan

“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan” (qs. Al-A’alq:1)

Oleh : Sri Mulyadi (Ketua Kesppi 2007-2008)

Pada dasarnya ilmu pengetahuan digunakan untuk menjawab atau memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia sehingga dengan majunya ilmu pengetahuan, tingkat kesejahteran hidup manusia akan meningkat. Di balik keberhasilan demi keberhasilan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan yang ada saat ini bukan tanpa cacat.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada era empat dasarwarsa ini oleh para filosof baik barat maupun timur dinilai telah menjadi ilmu pengetahuan yang terlalu rasionalistik pada gilirannya menghampakan manusia akan nilai-nilai agama (Ancok, 1994, dalam Nashori, 1996). Oleh penulis lain, krisis ilmu pengetahuan modern ini telah sampai pada krisis landasan filososifs. Fondasi epistemologi positivisme-rasionalisme yang digunakan ilmu pengetahuan modern sebagai topangan berfikir secara lambat laun tapi pasti telah meniadakan keberadaan nilai terutama nilai agama atau menihilkan keberadaan Tuhan. Hal ini didukung dengan pernyataan bahwa ilmu yang obyektif itu bebas nilai.

Krisis ini yang menggugah para pemikir terutama dunia timur yakni pemikir Muslim bertindak dengan cara islamisasi pengetahuan. Langkah ini diambil untuk mengembalikan ilmu pengetahuan sebagai pemecahan masalah manusia dengan mengedepankan sudut pandang manusia sebagai kesatuan bio-psiko-spiritual. Dalam tulisannya, Ancok (1994, dalam Nashori, 1996) menjelaskan bahwa perlunya langkah islamisasi pengetahuan tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan yang disalahfungsikan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya muncul sebagai rahmatan lil’alamin justru bertindak sebaliknya, kehilangan ruh sebagai keselamatan umat manusia.

Tujuan lainnya dari islamisasi pengetahuan disampaikan oleh Merryl Wyn Davies dalam tulisannya berjudul Rethingking knowledge: “islamization and the future”. Ia menyampaikan bahwa tujuan terpenting dari islamissasi ini adalah “melahirkan berbagai disiplin yang merupakan produk alami dari pandangan dunia dan peradaban islam, dan untuk itu digunakankan kategori dan gagasan islamisasi untuk menggambarkan tujuan, cita-cita, pemikiran, perilaku, persoalan, serta solusi masyarakat muslim” (Sardar, 2005).

Gerakan islamisasi pengetahuan ini menjadi wujud nyata menuju Kebangkitan Islam di abad 20. Gagasan ini dipelopori oleh Ismail raji Alfaruqi pada tahun 1982 dengan menawarkan tindakan langsung melalui islamisasi pengetahuan. Islamisasi pengetahuan ini, menurut Al faruqi, dapat dibangun dengan cara mensintesis antara islam dan ilmu pengetahuan modern (Ancok, 1994, dalam Nashori, 1996). Al faruqi berpendapat ( Sardar dan Malik, 2001) bahwa umat islam berupaya menyelesaikan permasalahan sejarah dengan alat-alat, katergori, konsep dan pesan analisis yang tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi sekaligus bertentangan dengan etika islam. Pemecahan ini hanya bisa ditangani menurutnya dengan rencana yang sistemastis, dari generasi-ke generasi, yang mesintesis pengetahuan islam klasik yang terbaik serta gagasan-gagasan kotemporer terbaik.

Semetara itu, Ziaudin Sardar pada tahun 1979 menawarkan gagasan rekonstruksi masa depan peradaban muslim dengan terlebih dahulu membangun espistemologi islam atau membangun pandangan dunia, worldview. Pemikir muslim lainnya, Seyyed Hossein Nasr, menawarkan adanya pertautan antara pengetahuan dengan kesucian yang dikemas dalam filsafat perenialismenya. Syed Muhammad Naquib al-Attas tampil dalam proses islamisasi pengetahuan dengan gagasan pengungkapan kembali system metafisika yang telah dibangun dalam tradisi Islam, dan menawarkan langkah praktis berupa perencanaan sebuah universitas yang memiliki struktur yang berasas pada pandangan dunia islam, dan merupakan medium penyampaian hikmah dalam tradisi pengetahuan Islam (Purwadi, 2002 ).

Kuntowijoyo dalam bukunya, Islam Sebagai Ilmu, menerangkan model mensintesiskan ilmu pengetahuan dan al qur’an dan as sunah ( baca: islam), atau dipahami dari pergerakan antara teks ke konteks ataupun sebaliknya. Dimana masing-masing mempunyai implikasi sendiri-sendiri dalam upaya mengembalikan ilmu pengetahuan dengan islam. Tiga model yang disampaikan antara lain dekodifikasi, islamisasi pengetahuan, dan demistifikasi. Di sini, dua model yakni dekodifikasi dan demistifikasi tidak dibahas.

Guna mempermudah pemahaman integrasi islam dan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh para pemikir islam maka yang dibahas islamisasi pengetahuan. Meskipun kedua model yang lain juga sebenarnya bagian penejelasan dari integrasi islam dan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh para pemikir islam. Artinya kedua model tersebut bukan tidak terkait dengan proses islamisasi pengetahuan. Tetapi hanya untuk mempermudah memahami saja. Islamisasi pengetahuan , dijelaskan dalam buku tersebut dengan apik oleh Kuntowijoyo, sebagai upaya mengembalikan ilmu pengetahuan kepada tauhid. Dengan demikian akan terjadi yang namanya penyaringan yang ketat dengan mendasarkan pada nialai-nilai tauhid.

Dari tauhid ini ada 3 macam kesatuan yakni kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Kesatuan pengetahuan berarti pengetahuan harus menuju kebenaran yang satu. Kesatuan hidup berarti hapusnya perbedaan antara ilmu yang sarat nilai dengan ilmu yang bebas nilai. Sementara kesatuan sejarah artinya pengetahuan harus mengabdi kepada umat dan pada manusia. Sehingga dapat disimpulkan dengan tegas bahwa islamisasi pengetahuan berarti mengembalikan pengetahuan pada tauhid, atau konteks ke teks. Demikian dijelaskan kuntowojoyo dengan terlepas kritiknya atas arah gerak konteks ke teks ini.

Sejak perdebatan islamisasi pengetahuan menggema di seantero dunia, bermunculan ilmu humaniora dengan diberi kata islam, misalnya ekonomi islam, sosiologi islam, antropologi islam, sampai pada psikologi islami. Untuk ilmu alam yang obyektif tidak perlu lagi diislamkan karena bukankah islam itu sendiri juga pada dasarnya obyektif? [ ]

Referensi

Kuntowijoyo.2007. Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, Dan Etika. Yogyakarta : Tiara wacana.

Nashori, F. 1996. Membangun Paradigma Psikologi Islami. Yogyakarta : Sipress.

Purwadi, A. 2002. Teologi Filsafat dan Sains. Malang : PT.UMM Pers

Sardar, Z. 2005. Kembali Ke Masa Depan:Syariat Sebagai Metodologi Pemecahan Masalah. Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.

Sardar, Z. dan Mlik, A.Z. 2001. Mengenal Islam For Beginners. Bandung : Mizan.

About these ads

Responses

  1. [...] Mulyadi, Sri, Islamisasi Pengetahuan, http://kesppi.wordpress.com/2009/01/21/islamisasi-pengetahuan/ [...]


Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: